Selasa, 21 April 2020

Tarhib Puasa

A.    Pengertian Puasa
Secara bahasa, puasa adalah terjemahan dari Bahasa Arab, shaum, ia memiliki arti dasar imsak ‘an al-kalam wa al-kaff ala syaiin “menahan sesuatu” atau “meninggalkannya”, “tidak melakukannya”.[1]
Ar-Raghib dalam Mufradat Al-Quran berkata: ”Shaum adalah menahan melakukan sesuatu, baik makan, berbicara, atau berjalan”. Oleh karena itu, kuda yang tidak mau bergerak atau berjalan dikatakan shiyam.[2] Adapun menurut istilah, shaum adalah menahan dari aktivitas makan, minum, dan mendekati wanita sejak fajar sampai Maghrib dengan penuh keikhlasan kepada Allah, serta mempersiapkan diri untuk senantiasa bertakwa dan mengendalikan keinginan syahwat.[3]
Puasa telah diwajibkan kepada umat-umat agama sebelumnya. Puasa menjadi satu rukun dari beberapa rukun agama, karena puasa merupakan salah satu jenis ibadah yang paling kuat dan sarana terbaik dalam proses pendidikan.[4]
B.     Dasar Hukum Puasa
1.      Al-Qur’an
يآأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa”[5]
2.      Sunnah
عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله وسلم يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ. [رواه الترمذي ومسلم]
“Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin Al Khatthab radiallahu’anhuma ia mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Islam itu dibangun di atas lima perkara: persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, menegakkan shalat, mengeluarkan zakat, berhaji ke Mekkah dan berpuasa di bulan Ramadhan.”[6]

3.      Ijma’
Kaum muslimin dari semua mazhab dan golongan sejak priode Nabi SAW hingga hari ini telah sepakat atas wajibnya puasa Ramadhan, yakni fardhu ain tiap-tiap muslim mukallaf tanpa kecuali, baik jaman dahulu, sekarang atau masa yang akan datang.[7]

C.     Macam-macam Puasa
Puasa dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:
1.      Puasa Wajib
a.       Puasa Ramadhan
Puasa Ramadhan adalah puasa selama sebulan penuh (29 atau 30 hari) di bulan Ramadhan. Ia merupakan salah satu rukun Islam. Kewajibannya bersifat asasi dan ‘aini bagi setiap muslim.
b.      Puasa Nazar
Jika seseorang bernazar akan melakukan puasa bila keinginannya tercapai, maka wajib baginya untuk melaksanakan puasa tersebut. Menurut para ulama, hukum bernazar setidaknya ada dua’ makruh dan qurbah (ibadah). Kebanyakan ulama memakruhkan bernazar, walaupun apa yang dinazarkan itu adalah ibadah, seperti shalat, puasa, dan sedekah. Hal ini berdasar pada hadist berikut:
“Rasulullah SAW melarang bernadzar seraya bersabda: “Sesungguhnya nazar itu tidak dapat menolak sesuatu, dan nazar itu hanya keluar dari orang yang bakhil”.[8]
Dimakruhkannya bernazar adalah karena dikhawatirkan sebagian manusia beritikad bahwa nazar itu dapat menolak atau merubah takdir, atau mereka mengira bahwa nazar itu dapat memastikan keberhasilan apa yang diinginkannya, atau menganggap bahwa Allah akan mewujudkan keinginannya karena nazarnya. Padahal Rasulullah SAW telah bersabda: “Sesungguhnya nazar itu tidak dapat menolak sesuatu atau tidak mendatangkan kebaikan”.

2.      Puasa Sunnah
Puasa-puasa sunah cukup banyak macamnya. Disunnahkan karena waktunya memang waktu yang sangat baik untuk melakukan ibadah dan berbagai taqarrub (pendekatan) kepada Allah, khususnya puasa. Syariat agama kita menganjurkan untuk melakukan puasa sunnah, karena puasa sunnah dapat mendekatkan seorang hamba kepada Tuhannya.
a.       Puasa 6 Hari Bulan Syawal
Puasa 6 hari di Bulan Syawal ini berdasarkan pada Hadits Nabi Muhammad SAW
“Barang siapa puasa Ramadhan kemudian ia iringi dengan (puasa) enam hari di Bulan Syawal, maka seolah-olah ia berpuasa setahun”[9]
Puasa Syawal ini boleh dilakukan secara acak

b.      Puasa Arafah
Puasa Arafah adalah puasa yang dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah. Puasa ini terbilang paling afdhal, karena pada hari itu jamaah haji sedang wukuf di padang Arafah dengan mengenakan busana ihram, mereka memenuhi panggilan Allah, mengkhususkan dirinya beribadah kepada Allah. Nabi menyatakan bahwa puasa Arafah dapat menghapus dosa satu tahun.[10]

c.       Puasa di Bulan Muharam
Menurut sejumlah riwayat, puasa di bulan Muharam khususnya tanggal 10 amat dikenal di kalangan Quraisy pada zaman jahiliya, begitu juga di kalangan Yahudi. Bahkan menurut suatu riwayat, sebelum diwajibkan puasa Ramadhan, umat Islam mengerjakan puasa di bulan Muharam ini. “Hari Asyura adalah hari dimana orang Quraisy di masa jahiliyah berpuasa dan Rasul pun mengerjakannya.”

d.      Puasa di Bulan Sya’ban
Disunnahkan berpuasa di bulan Sya’ban sebagai persiapan dalam rangka menghadapi bulan suci Ramadhan, dan dalam rangka mengikuti sunah Nabi. Aisyah pernah berkata:
“ Nabi SAW tidak pernah berpuasa dalam satu bulan lebih banyak dari puasa di bulan Sya’ban”.[11]




e.       Puasa di Bulan-Bulan Haram (Mulia)
Bulan-bulan haram adalah Dzu al-Hijjah, Muharram dan Rajab. Bulan haram ini adalah bulan yang diagungkan oleh Allah dan diharamkan melakukan peperangan di bulan-bulan ini.[12]

f.        Puasa Senin dan Kamis
Nabi Muhammad SAW sangat bersungguh-sungguh berpuasa di hari Senin dan Kamis. Hal ini karena memang kedua hari ini adalah hari yang utama. Menurut beliau, kedua hari itu adalah saat amal manusia disetorkan di hadapan Allah. Alangkah bagusnya ketika amal disetorkan pada saat kita dalam keadaan berpuasa.[13]

g.      Puasa Tiga Hari di Setiap Bulan
Di antara sekian banyak puasa sunah, adalah puasa tiga hari tiap-tiap bulan, atau yang disebut dengan ayyam al-biyd. Allah memberikan balasan satu kebaikan dengan sepuluh kebaikan. Jadi, tiga hari puasa sama dengan puasa tiga puluh hari atau sebulan penuh. Nabi sendiri melakukan puasa ini, dan menganjurkan kepada umatnya.

h.      Satu Hari Puasa-Satu Hari Berbuka
Puasa ini disebut pula dengan puasa Nabi Daud As. Puasa ini paling utama dan paling dicintai Allah bagi orang yang mampu dan tidak berat mengerjakannya. Hal ini didasarkan pada hadits berikut:
لاصوم فوق صوم داود شطر الدهر صيام يوم و إفطار يو
“Tidak ada puasa yang melebihi puasa Daud (1/2 tahun), yaitu satu hari puasa satu hari berbuka” (HR. Muslim)

3.      Hari-hari yang Dilarang Untuk Puasa Sunah
a.       Dua Hari Raya (Idul Fitri dan Idul Adha)
Tanggal 1 Syawal merupakan hari raya umat Islam. Rasulullah melarang setiap muslim melaksanakan ibadah puasa pada dua hari raya ini, sebagaimana sabda Rasulullah SAW.
نَهَى رَسُولُ اللّهِ صَلَّى اللّهُ عَليه وسلم عن صيامِ يومَينِ يومِ الفطرِ وَيومِ الأَضحى
“Rasulullah SAW melarang berpuasa pada dua hari; hari raya Fitri dan hari raya Adha.[14]
b.      Hari Tasyriq
Hari Tasyriq adalah tanggal 11, 12, dan 13 bulan Dzulhijjah. Pada tiga hari itu, umat Islam masih dalam suasana perayaan hari Raya Idul Adha sehingga masih diharamkan bagi umat Islam untuk berpuasa, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:
اِنَّهَا اَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرِاللّهِ تعالى
Sesungguhnya hari itu (tasyriq) adalah hari makan, minum, dan zikir kepada Allah SWT.[15]

c.       Puasa sehari saja pada Hari Jumat
Puasa ini haram hukumnya jika tidak didahului dengan hari sebelum atau sesudahnya.

d.      Puasa pada Hari Syak
Hari syak adalah hari yang penuh dengan keraguan. Hari syak adalah tanggal 30 Sya’ban. Jika orang-orang ragu tentang awal Bulan Ramadhan karena hilal tidak terlihat, pada saat tidak ada kejelasan apakah sudah masuk bulan Ramadhan atau belum, ketidakjelasan inilah yang disebut syak.

e.       Puasa Selamanya
Diharamkan bagi seseorang untuk berpuasa terus setiap hari, meskipun dia sanggup untuk mengerjakannya dan tidak berpengaruh atas kondisi tubuhnya. Namun, secara syar’i puasa seperti itu dilarang Islam.

f.        Wanita haid atau nifas
Wanita yang sedang mengalami haid atau nifas diharamkan mengerjakan puasa karena kondisi tubuhnya sedang dalam keadaan tidak suci dari hadas besar. Apabila dalam kondisi itu ia tetap melakukan puasa, berdosa hukumnya.

g.      Puasa sunnah bagi wanita tanpa izin suami
Seorang istri yang akan mengerjakan puasa sunnah, harus meminta izin terlebih dahulu kepada suaminya. Jika ia mendapatkan izin, boleh baginya untuk berpuasa. Sedangkan, jika ia tidak diizinkan tetapi tetap berpuasa maka puasanya menjadi haram secar syar’i.[16]

D.    Tata Cara Puasa Ramadhan
1.      Niat – Awali puasa kita sebelum terbitnya fajar dengan membaca niat dari dalam hati agar puasa kita dapat diterima oleh Allah SWT.
2.      Melaksanakan makan sahur – Dari hadist HR. Bukhari Muslim dan Ana bin Malik R.A yang mengatakan bahwa: “Telah bersabda Rasulullah SAW,’Sahurlah kalian, maka sesungguhnya dalam sahur itu ada berkahnya”.
3.      Mengetahui Imsak – Dengan mengetahui waktu imsak, kita harus menghentikan segala kegiatan yang dapat membatalkan puasa.
4.      Bersegera untuk berbuka puasa jika sudah waktunya atau takjil – Dari hadist Abu Hurairah r.a. berkata telah bersabda Rasulullah SAW: “Telah berfirman Allah Yang Mahamulia dan Maha Agung:”Hamba-hamba Ku yang lebih aku cintai ialah mereka yang paling segera berbukanya” (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah).
5.      Memperbanyak membaca Al Quran, sedekah, dan membayar zakat fitrah.[17]

E.     Amalan-amalan Bulan Ramadhan
a.       Mendirikan Qiamul Lail
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلّى الله عليه وسلّم : مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (yakni sholat malam pada bulan  romadhon) karena iman dan mengharap pahala dan ridho Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.[18]
b.       Meninggalkan Perkataan Dusta
حَدَّثَنَا آدَمُ بۡنُ أَبِي إِيَاسٍ: حَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي ذِئۡبٍ: حَدَّثَنَا سَعِيدٌ الۡمَقۡبُرِيُّ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ لَمۡ يَدَعۡ قَوۡلَ الزُّورِ وَالۡعَمَلَ بِهِ، فَلَيۡسَ لِلهِ حَاجَةٌ فِي أَنۡ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ)
Adam bin Abu Iyas telah menceritakan kepada kami: Ibnu Abu Dzi`b menceritakan kepada kami: Sa’id Al-Maqburi menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan berbuat dusta, maka Allah tidak hiraukan amalannya menahan makan dan minum.”[19]

c.       Memperbanyak Sedekah dan Membaca Al-Qur’an
عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُتۡبَةَ: أَنَّ ابۡنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ أَجۡوَدَ النَّاسِ بِالۡخَيۡرِ، وَكَانَ أَجۡوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ، حِينَ يَلۡقَاهُ جِبۡرِيلُ، وَكَانَ جِبۡرِيلُ عَلَيۡهِ السَّلَامُ يَلۡقَاهُ كُلَّ لَيۡلَةٍ فِي رَمَضَانَ حَتَّى يَنۡسَلِخَ، يَعۡرِضُ عَلَيۡهِ النَّبِيُّ ﷺ الۡقُرۡآنَ. فَإِذَا لَقِيَهُ جِبۡرِيلُ عَلَيۡهِ السَّلَامُ، كَانَ أَجۡوَدَ بِالۡخَيۡرِ مِنَ الرِّيحِ الۡمُرۡسَلَةِ
“Dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah: Bahwa Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling pemurah dalam memberikan kebaikan. Dan beliau lebih pemurah dalam bulan Ramadan ketika Jibril menjumpai beliau. Jibril‘alaihis salam menjumpai beliau pada setiap malam Ramadan sampai berakhir, saat itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperdengarkan bacaan Al-Quran kepadanya. Saat Jibril ‘alaihis salam menjumpai beliau itulah, beliau lebih pemurah dalam memberikan kebaikan daripada angin yang berembus.[20]

d.       Membayar Zakat Fitrah
 فَرَضَ رَسُولُ اللهِ ﷺ زَكَاةَ الۡفِطۡرِ صَاعًا مِنۡ تَمۡرٍ أَوۡ صَاعًا مِنۡ شَعِيرٍ، عَلَى الۡعَبۡدِ وَالۡحُرِّ، وَالذَّكَرِ وَالۡأُنۡثَى، وَالصَّغِيرِ وَالۡكَبِيرِ، مِنَ الۡمُسۡلِمِينَ، وَأَمَرَ بِهَا أَنۡ تُؤَدَّى قَبۡلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fithri berupa satu sha' tamr (kurma) atau satu sha' sya'ir (gandum) kepada budak dan orang merdeka, laki-laki dan perempuan, anak kecil dan orang dewasa dari kalangan kaum muslimin. Beliau memerintahkan agar zakat ditunaikan sebelum manusia keluar shalat 'Id.[21]
e.       I’tiqaf
أنَّ النّبيّ ﷺ كان يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمضَانَ حتَّى تَوَفَّاهُالله.
“Bahwa Nabi beri’tikaf pada sepuluh akhir pada bulan ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau.”[22]
Itulah beberapa amlan yang sangat di anjurkan di kerjakan pada Bulan Ramdhan karena semua Nai Muhammad SAW lakuakan.
F.      Hikmah Puasa Ramadhan
1.      Merupakan sarana pendidikan bagi manusia agar tetap patuh kepada Allah, menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya;
2.      Puasa menjadi dasar disiplin moral. Puasa menganjurkan kita untuk bersikap jujur, ikhlas, dan peduli kepada orang lain.
3.      Puasa dapat menjadikan seseorang terbiasa menahan diri dari segala keinginan dan hawa nafsu sehingga ia senantiasa berjalan di atas petunjuk syariat agama.
4.      Puasa menanamkan nilai sosial. Puasa juga dapat memperkuat solidaritas sosial dalam bermasyarakat.
5.      Puasa dapat mewujudkan kesehatan jasmani. Puasa mempunyai hikmah cukup penting bagi pelakunya, yaitu sehatnya fisik seseorang.[23]


[1] Ibnu Mandzur, Lisan al-Arab, dalam Hasbiyallah, Fiqh dan Ushul Fiqh Metode Istinbath dan Istidlal, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya 2013), cet 1, h. 215
[2] Tentang hal ini, ada sebuah syair Arab menyatakan:Ibnu Mandzur, Lisan Arab, Al-Qurtubi, 254.
[3] Hasbiyallah, Loc. Cit., h. 216.
[4] Ibid.
[5] QS. Al Baqarah: 183
[6] H,R. Al Bukhari dan Muslim
[7] Hasbiyallah, Op. Cit., h. 222.
[8] H.R. Al Bukhari, Muslim, Imam Ahmad, dan lainnya dari Ibnu Umar.
[9] H.R. Muslim
[10] HR. Muslim dari Qatadah.
[11] HR. Al Bukhari dan Muslim
[12] QS. At Taubah: 36
[13] Hasbiyallah, Op. Cit., h. 240.
[14] H.R. Muttafaq ‘alaih
[15] H.R Muslim
[16] Muhammad Anis Sumaji, Muhammad Najmuddin Zuhdi, 125 Masalah Puasa, (Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri 2008), h. 77-79.
[17] https://dalamislam.com/puasa/puasa-ramadhan-dan-cara-pelaksanaannya di akses tanggal 23 Februari 2018 pukul 15.00
[18] H.R. Al-Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759.
[19] H.R. Al-Bukhari No: 1903. Dalam Fathul Baari, h. 48
[20] H.R. Al Bukhari No: 1902. Dalam Fathul Baari, h. 47
[21] H.R. Al Bukhari No: 1503
[22] Muttafaqun alaihi, dalam Fiqih Muyassar, h. 272.
[23] Muhammad Anis Sumaji, Muhammad Najmuddin Zuhdi, Op.Cit.,  h. 29.

Kamis, 25 Mei 2017

Kisah Hikmah

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Alhamdulillahirabbil ‘alamin wassalatuwassalamu’ala sayyidil mursalin wa’ala alihi wasohbihi ajma’in, ‘amma ba’du. Puji dan syukur marilah kita panjatkan akan kehadirat Allah Swt, yang atas berkat limpahan rahmat-Nya kita dapat menikmati manisnya iman dan indahnya islam.
Salawat juga salam tak pernah lupa kita hadiahkan kepada jujungan agung kita, nabi akhir zaman, yaitu Nabi Muhammad SAW. Atas perjuangan Beliau kita dapat mengenal islam sebagai agama yang rahmatan lil’alamin. Semoga kita sentiasa selalu menegakkan sunnah-sunnah Beliau hingga akhir hidup kita nanti.
Teman-teman rahimakumullah, pada hari ini saya ingin berbagi sebuah kisah yang menarik. Kisah ini merupakan cara bagaimana belajar dalam islam, terutama semangat dalam menghafal. Nama pemuda ini adalah Ahmad bin Ali, Beliau di kenal pemuda yang cerdas sejak kecil. Namun pada suatu ketika Beliau merasa kesulitan dalam menghafal sebuah hadis Al-Bukhori. Kemudian datanglah Ia menghadap seorang syekh terkemuka di desanya, syekh tersebut merupakan gurunya juga.
Ketika bertemu dengan gurunya, Ia menceritakan kesulitanya dalam belajar. Lantas tanpa ada basa basi lagi, beliau bertanya kepada syekhnya, “Ya Syekh, mengapa akhir-akhir ini saya sangat merasakan sulit dalam menghafal? Rasanya kepala ini seperti batu?” Syekhnya lantas tersenyum dan menjawab pertanyaan pemuda itu dengan tenang
Wasiat Syekh tersebut menjadi awal mula julukan kepada Ahmad bin Ali kelak. Gurunya mewasiatkan kepada beliau bahwa, jika kamu ingin mudah dalam belajar baik itu menghafal atau apapun yang hubungannya dengan ilmu pengetahuan. Pertama yang harus kamu lakukan adalah tingkatkan ketakwaanmu kepada Allah Swt.
Masyaallah, ternyata pesan pertama sederhan teman-teman. Mungkin kalian banyak yang berfikir bahwa kalau mau pintar yah langkah awalnya adalah belajar, atau banyak membaca? Itu memang benar tidak boleh disalahkan. Namun ada yang lebih utama, yaitu sebelum belajar kita harus meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt. Ketika kita dapat meingkatkan ketakwaan, maka  tidak perlu bersusah-payah dalam belajar Allah langsung yang mengajarkan kita dan membukakan gudangnya ilmu kepada kita.
Nasihat ini sesuai dengan sebuah ayat dalam Alquran, pada surah 2 Al-Baqarah ayat ke-282 pada ujung ayatnya.
“Dan betakwalah kepada Allah, dan Allah akan mengajarkanmu..” Q.S.2:282.
Ketika kita sudah meningkatkan takwa kepada Allah, maka Allah langsung yang ajarkan kita. Dalam artian Allah memudahkan kita menyerap ilmu-ilmu yang kita peroleh baik dari guru, dari teman, sahabat, atau alam sekitar kita. Lantas apa arti bertakwa tersebut? Secara sederhana definisi takwa adalah, menjalankan segala yang diperintahkan Allah Swt kepada kita dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya.
Nasihat kedua dari gurunya adalah, belajarlah seperti air yang menetesi batu. Apa maksudnya? Liahatlah cara kerja air, tidak sekeras batu memang tetapi ketika air tersebut menetes sedikit-sedikit kepada batu yang keras, lama-kelamaan maka batu itu akan hancur. Artinya ketika dalam belajar kita harus bersabar seperti air yang menetesi batu. Setelah Ia mendapat pencerahan dari gurnuyag dam langsung dipraktekkan oleh Ahmad bin Ali sangat luar biasa hasilnya.
Allahu Akbar, hanya dalam hitunggan minggu tebuka semua kecerdasanya. Kemarin yang sulit terhadap kitab sahih Al-Bukhori, ketika di praktekan pesan dari gurunya beliau langsung hafal dalam hitungan minggu.
Tidak cukup sampai di situ, kecerdasan Ahmad bin Ali tersebut. Disyarahkan kitab sahih Al-Bukhori tersebut dengan tulisan yang kecil-kecil yang kelak menjadi buku yang terkenal, yaitu Fathul Barri yang bukan hanya satu jilid tetapi empat belas jilid. Inilah bukti jika kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah dan bersabar dalam belajar. Tebuka semua gudang ilmu, karena kita tahu bahwa semua ilmu ada pada sisi Allah Swt.
Sekarang ubahlah mindset dengan percaya bahwa ilmu datang dari Allah Swt. Jika ingin berilmu kejarlah kepada pemilik ilmu yang sebenarnya.  Semoga kita dapat mengamalkan wasiat tersebut bersama, agar kita di mudahkan Allah Swt dalam menuntut ilmu. Hingga pada saatnya, Allah berkenan memberikan keberkahan setiap ilmu kepada kita. Kemudian dapat kita manfaatkan bagi sesama kita dan bagi dunia akhirat kita.
Semoga yang singkat ini bermanfaat dan kurang lebihnya mohon untuk dimaafkan. Kesalahan datang dari diri saya pribadi dan kebenaran datangnya dari Allah Swt. والله أعلمُ بالـصـواب
Billahitaufiq walhidayah.


وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Sabtu, 13 Mei 2017

Misteri Masa Depan

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah Swt, yang masih menaungi kita dengan nikmat iman dan islam. Salawat juga teriring salam senantiasa kita curahkan kepada nabi kita, nabi akhir zaman, yaitu Nabi Muhammad SAW. Semoga kita selalu dan senantiasa menghidupi sunnah-sunnahnya hingga akhir hayat kita kelak, aamiin.

Teman-teman sekalian yang berbahagia. Semoga keselamatan selalu Allah limpahkan kepada kita dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Masa depan manusia adalah hal yang belum pasti. Bagaimana bisa pasti? Kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi ke depan nanti. Apakah menjadi berhasil ataukah menjadi gagal itu masih menjadi misteri di tangan-Nya yang Maha Kuasa.
Sebagai manusia yang normal, pasti mengkhawatirkan akan masa depan. Sebagimana Allah Swt berfirman yang artinya:

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” Q.S:2:155.
Memang masa depan Allah rahasiakan kepada kita agar kita tidak hanya bersantai-santai, akan tetapi serius dalam mengejarnya. Andai masa depan adalah hal yang pasti, mungkin kita hanya pasrah kepada nasib dan sangat mudah berputus asa. Oleh sebab itulah Allah merahasiakan masa depan kepada kita, baik itu hal karier kita ke depan nanti atau jodoh kita dan umur kita. Itu semua Allah rahasiakan agar Ia melihat siapa hamba-hamba-Nya yang terbaik.
Allah Swt berfirman dalam Alquran surah Al Mulk pada ayat yang ke-2:
“Allah menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” Q.S.67:2.
Jadi dari ayat di atas, kita mengetahui bahwa hidup ini adalah ujian yang Allah berikan kepada kita agar Allah melihat siapa di antara hamba-hambanya yang terbaik amalnya. Yang terbaik amalnya bukan hanya kepada Allah saja, namu juga baik amalnya kepada sesama manusia.
Teman-teman rahimakumullah, kesuksesan akan mudah diraih apabila kita senantiasa bersama Allah Swt dalam setiap aktivitas kita. Allah lah sumber dari kebahagian dan kesuksesan. Jadi jika ingin hidup sukses, masa depan yang cemerlang dan mudah dalam menjalaninya maka dekatlah selalu kepada sang pemilik kehidupan, pemilik kesuksesan, dan pemilik kebahagiaan. Semua itu hanya milik Allah Swt.
Dekat dengan Allah itu sangat teramat indah, ketika kita mendengar azan dan kita mampu melangkahkan kaki kita ke rumah-Nya walau jauh itulah kenikmatan yang tiada tara. Ketika wajah yang mulia ini kita hinakan dalam sujud untuk menyembah-Nya, itu juga keindahan yang tiada tara. Ketika semua masalah kehidupan yang tidak pasti kita adukan dalam doa bermohon kepada-Nya itu pun keindahan yang tiada tara. Jadi dekat lah selalu kepada Allah Swt.
Ingatlah selalu teman. Masa depan akhir kita adalah akhirat, kehidupan yang sebenar-benarnya. Allah Swt berfirman dalam Q.S.28:77 yang artinya:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Allah menginginkan kita mencari kehidupan akhirat tapi tidak lupa dengan kehidupan dunia kita. Jadi intinya adalah, jika kita ingin mengejar masa depan yang lebih baik, itu boleh, tetapi orientasikan semua kepada akhirat. Tanyakan kepada diri sendiri, apakah yang saya dapatkan di akhirat kelak ketika saya mengejar masa depan saya? Apakah ini baik atau tidak untuk dunia dan akhirat saya? Itu harus menjadi renungan dalam pada saat kita mengejar kesuksesan dunia. Semoga kita termasuk orang-orang yang di mudahkan dalam menggapai mana depan yang cemerlang di dunia dan di akhirat. Seperti doa yang sering Nabi SAW bacakan:
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab api neraka.” Q.S.2:201.
Semoga yang singkat ini bermanfaat untuk saya dan teman-teman sekalian. Kurang lebihnya mohon maaf. Kesalahan datang dari pribadi saya dan kebenaran milik Allah Swt sepenuhnya. والله أعلمُ بالـصـواب
Billahitaufiq walhidayah.


وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Jumat, 12 Mei 2017

Jangan Putus Asa dalam Berdoa

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah Swt, yang masih menaungi kita dengan nikmat iman dan islam. Salawat juga teriring salam senantiasa kita curahkan kepada nabi kita, nabi akhir zaman, yaitu Nabi Muhammad SAW. Semoga kita selalu dan senantiasa menghidupi sunnah-sunnahnya hingga akhir hayat kita kelak, aamiin.

Teman-teman sekalian yang berbahagia. Semoga keselamatan selalu Allah limpahkan kepada kita dalam menjalankan aktivitas sehari-hari kita. Dari beberapa tulisan tentang doa sebelumnya, saya banyak menyeru agar kita berdoa kepada Allah Swt. Memang benar doa adalah sesuatu yang menakjubkan bagi orang-orang yang yakin terhadap keajaiban Allah Swt. Dengan berdoa apa yang tidak bisa pasti jadi bisa, asal kita pecaya atas doa yang kita panjatkan.

Dalam sebuah hadis qudsi yang di riwayatkan oleh Al Bukhori dan Muslim yang artinya:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah R.a, Rasulullah SAW pernah bersabda:
Allah Ta’ala berfirman, “Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya selama ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam sekumpulan orang maka Aku akan mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dan lebih bagus darinya…. ” (HR. Bukhari & Muslim)

Dari redaksi hadis di atas, Allah menyeru kepada kita agar bersikap optimis dalam setiap aktivitas, termasuklah dalam berdoa kepada-Nya. Apabila kita percaya akan setiap doa kita Allah jawab, pasti akan terjawab. Namun jika kita berfikir bahwa tidak akan terkabul, maka yang akan terjadi tidak ada pengabulan doa yang kita panjatkan. Tapi mohon diingat teman-teman sekalian, Allah pasti mengijabah setiap doa yang dipanjatkan hamba-Nya. Oleh sebab itu mari kita selalu yakin bahwa Allah pasti menjawab setiap doa yang kita panjatkan.

Teman-teman rahimakumullah. Banyak ayat yang berbicara mengenai Allah pasti akan mengabulkan setiap permohonan, seperti Q.S.2:186, Q.S.8:9, dan Q.S.40:60. Jadi mulai saat ini tanamkan bahwa Allah selalu mendengar keluhan-keluhan hamba-Nya.

Ketika kita percaya akan keajaiban Allah Swt, apapun bisa terjadi. Seperti Nabi Ibrahim a.s yang tidak terbakar oleh api, berkat doa dan keyakinannya kepada Allah. Layaknya seperti kisah Nabi Zakariyah a.s, yang tak pernah putus berdoa kepada Allah meski istrinya telah divonis mandul akan tetapi ketika Allah berkehendak, lahirlah seorang anak yang bernama Yahya yang sangat salih. Apakah hanya pada nabi saja itu dapat terjadi? Tidak kawan, karena dalam redaksi ayat Q.S. 2:186, sapaan Allah bukan untuk nabi tapi untuk hamba-hamba-Nya.

Tapi ingat teman-temanku yang insyaallah senantiasa dirahmati Allah Swt. tidak setiap doa itu sesuai dengan yang kita harapkan. Allah mengabulkan doa hamba-Nya itu sesuai keperluanya bukan sesuai keinginan hamba-Nya. Ada 3 cara Allah Swt mengabulkan doa kita, antaralain;

1. Langsung Allah Swt kabulkan sesuai dengan apa yang kita pintakan.
2. Tidak dilangsungkan namun ditangguhkan ketika kita sudah siap.
3. Tidak dijawab sesuai permintaan, tetapi diganti dengan yang lebih baik dari permintaan kita.

Jadi teman-teman sekalian jangan pernah berprasanka bahwa Allah tidak mengabulkan doa kita. Bermuhasabahlah, terkadang Allah Swt sudah menjawab doa kita, namun kita tidak menyadarinya.

Mungkin hanya itu yang dapat saya share pada kesempatan kali ini. Semoga yang singkat ini bermanfaat bagi diri saya dan teman-teman sekalian. Semoga juga, Allah selalu limpahkan karunianya kepada kita semua dan keberkahanya. Kurang lebihnya saya mohon maaf. Kekurangan datang dari diri saya pribadi, kebenaran datangnya dari Allah. Billahitaufiq wal hidayah

والله أعلمُ بالـصـواب

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ